Kamis, 15 Juli 2021 0 komentar

Rumpang

 

Malam ini aku punya setumpuk rindu. 

Yang menggeliat dari dasar jiwa yang rapuh, mengetuk-ngetuk pintu rumahmu. Melalap habis isi kepala yang riuh

Malam ini aku punya setumpuk rindu, yang mungkin tak akan pernah terpuaskan.

Aku rindu pada 2 kucingku yang dulu
Kucing putihku telah mati, sedang yang satu entah kemana pergi, atau mungkin memang sengaja dibuang ayahku.. aku rindu rengekan mereka saat subuh seolah membangunkan aku dr tidur lelap, dan menyuruhku bersiap untuk menjadi kuat pada hari-hari suram itu.

Aku rindu nenekku. Telah lama ia kembali pada Sang Pencipta.
Aku rindu dibelikan baju tidur saat mudik lebaran. Aku rindu ia omeli ketika tidak sengaja minum dg tangan kiri. Aku rindu aroma khas tubuh tua renta, kasur lapuk, dan kamar lembab nenekku.. ah.. mungkin ibuku lebih merindukannya.

Aku rindu rutinitasku tepat setahun yg lalu dari sekarang. Aku rindu menjalani hari-hariku dg senyum sumringah khas gadis yg sedang kasmaran. Aku rindu kau nyanyikan lagu-lagu pilu. Aku rindu gelak tawamu saat mendengar cerita-ceritaku.

Apa kau tau terbuat dari apa rindu itu?
Sepertiga dari rindu adalah rasa sesal.
Menyesal tidak menghargai tiap detik yang kuisi bersamamu, bersama mereka. 

Sepertiga lagi adalah perpisahan. Ya, karna tanpa perpisahan tak mungkin timbul yang namanya rindu. Aku benci kata itu. Tapi mereka bilang, perpisahan adalah milik semua yg bernyawa di semesta ini.

Dan sisanya adalah kekosongan. Kekosongan ku saat ini yg berharap bisa diisi dg kenangan-kenangan itu lagi, bersamamu, bersama mereka.
Temanku bilang bahwa Tuhan akan mengosongkan hatimu untuk mengisinya dg yang baru, yang lebih baik. Aku setuju. Dengan syarat bahwa itu benar kosong.

Tapi bagaimana dengan rumpang?
Bisakah dahan yang tlah patah kau sambung lagi ?
Gelas yg pecah kau satukan lagi?
Dan paku yg tlah tertanam kau cabut tanpa meninggalkan lubang ?

Mungkin aku meragukanmu.
Tapi Tuhan lain cerita.
Entah apa skenario selanjutnya..
Ku biarkan Tuhan  merampungkan apa yg rumpang.





                      

Selasa, 13 Juli 2021 0 komentar

Bulan malam ini

 Git.. malam ini aku melihat bulan indah sekali.. pun bintangnya..

Langit sangat cerah malam ini.
Dia bergeser git. Aku lebih suka posisinya yang awal.. tapi bulan tetaplah cantik.
Hanya sudut pandangku yg berubah, seiring berjalannya waktu.

Waktu berjalan, musim berubah. 
Menggeser, mengganti, merubah, apapun yang ada di semesta. Tak ada yang tak fana.


Seperti minum kopi git.. harus pada hangat yg pas. Tidak terlalu panas, dan jangan kau biarkan menjadi dingin.
Ini perihal waktu git.

Waktu yg tepat.

Waktu itu akan datang git. Seperti waktu kamu datang kepadaku. Yang akhirnya menjadi teman hidupku saat ini. Menjadi saksi atas semua pesakitan. Pelampiasan sepi-heningnya malamku.

Tapi malam ini ironi git..
Mengapa bulan begitu indah disaat pilu melingkupi kami. Bulan seakan tidak peduli atas ratapan anak-anak yang menjadi yatim.

"Bulan tidak salah, sudut pandangmu dan bulan berbeda" sahutmu.




                






Nb : maaf atas kualitas gambarnya.. sungguh malam ini bulan puluhan kali lebih cantik dr gambar itu, andai kamu tahu..



Minggu, 18 April 2021 0 komentar

Dunia imaji

 Hai, selamat datang di dunia imaji..

Satu-satunya tempat dimana aku bisa memilikimu semauku.. tempat dimana kamu akan selalu hidup, tak tersentuh, tak terusik, dan hanya disitulah kamu bisa menerimaku.

Sesekali aku datang menengokmu, sekedar mengulas senyum dan membingkai mata indahmu, bersandar aku menyeka lelahku..

Di ruang temaram itu kau memelukku erat dan aku tertidur pulas seperti bayi di dadamu.. seraya menerka-nerka "apakah seperti ini rasanya pulang ke rumah? Nyaman."

Kamu mengecup keningku dua kali. Merapalkan hal-hal indah tentang kita dan mengelus surai hitam di kepalaku.

Kamu masih disitu. Di dunia imajiku. Dan akan terus disitu entah sampai kapan.

Mulai dari rambutku yang hanya cukup menyentuh telinga, sampai sudah sepanjang ini, dan terus sampai kelabu, tidak ada yg bisa mengusikmu.

Aku masih punya banyak ruang. Ku harap sang entah mau menyisakan sedikit ruang untukmu. 

Salahmu. Salahmu telah menancapkan tiang pancang terlalu dalam, atau aku saja yang terlalu gembur menjadi tanah...

Hey... kuberi tahu satu hal.

Kamu tidak perlu tahu rasanya jadi aku..

Kamu hanya perlu tahu seberapa tulusnya aku untuk melihatmu tersenyum.

Maka, selagi aku bisa, akan ku buat kamu slalu tersenyum disana.. di dunia imajiku.



          



Sabtu, 20 Maret 2021 0 komentar

Si kunang-kunang

 Tak akan kau temukan aku pada siapapun
Tidak pada rambut panjangnya
Tidak pada tubuh ramping semampai
Tidak pada senyum manis bergingsul
Dan tidak pada para gadis di lusinan ruangmu, tidak.

Aku sudah mati, bila kau rasa begitu.
Aku padam dan hilang cahayanya seperti kunang-kunang diantara lampu taman.
Aku kalah terang.
Terabaikan, dan pulang.

Tak mengapa, aku tak resah.
Kuletakkan cahayaku diujung langit yg akan menjelma menjadi selimutmu ketika gundah.
Akulah si kunang-kunang.
Teman tidurmu sampai kau kuat menyambut fajar.
Beribu pelarian tak pernah kau temukan.





                             Cr : pinterest

Rabu, 17 Maret 2021 0 komentar

Degup ketiga

 Tiada yang benar-benar sampai pada degup ke tiga
Segala yang kuragukan telah kupintakan pada-Nya
Mungkin belum, masa masih enggan bersuara
Sampai ia tiba aku akan terus berkelana.

Kuberi tahu kau suatu hal,
Degup pertama mungkin pertanda, 
Bahwa ada suatu garis yang saling terikat.
Banyak yang tersesat pada degup kedua,
Lingkaran setan, kita terjebak didalamnya.
Maka bangunlah.. saat ayah ibumu terlelap
Dan bulan masih setia pada peraduannya.
Degup ketiga hanya disimpan oleh-Nya
Sang Pecinta sesungguhnya.
Kembalillah ke pelukanNya, kau akan selalu aman bersamaNya.









Kamis, 11 Februari 2021 0 komentar

Hai, selamat datang di rumah!

 Ku kira kamu rumah

Ternyata bukan..

Ternyata kamu jalan pulang

Ya jalan pulang menuju rumah

Yang tak lain adalah diriku sendiri.


Tentu saja jalannya tak selalu mulus

Ada jalanan lurus yang panjang, bebatuan tajam dan lubang, menanjak juga berkelok.

Aku selalu suka berada di perjalanan

Melebihi suka ku sampai di tujuan, kadang

Tapi perjalanan selalu memiliki usai.


Dalam perjalanan itu aku pernah melihat kebun bunga di sebelah kanannya, bunga matahari katamu, menurutku bukan, itu bunga liar, tapi sama indahnya, yang penting kau suka kan..

Dalam perjalanan kakiku pernah kepayahan karna kerikil tajam, menusuk dan membekas, tapi aku masih kuat untuk meneruskan..

Dalam perjalanan aku pernah diterjang badai, petir menyambar-nyambar, menumbangkan  pohon pinus yang akhirnya menutupi jalan.. tapi aku terus berjalan sambil terus menggumam "jikalau aku harus mati dalam perjalanan ini, aku tidak mau mati sebagai pengecut". 

Satu hal yang kusuka dari badai adalah ia menyapu bersih langit dari polusi ibukota, menampilkan tanah impianku yang anggun jauh disana dengan hamparan perbukitannya, aku berterima kasih pada badai setelahnya.

Aku juga berterima kasih pada kau, jalan.

Juga pada angin yang setia menuntunku hingga akhirnya menemukan aku, rumahku.

Seberapapun menyakitkannya perjalanan ini, aku tetap menyukainya lebih dari apapun siapapun di dunia ini yang tau.

Terimakasih untuk semuanya, aku telah pulang ke rumah.





                  


Kamis, 21 Januari 2021 0 komentar

Berhenti bertanya, sudah malam!

Banyak hal yang tak kumengerti di dunia ini.
Mengapa rindu tak pulang pada pemiliknya?
Mengapa kesepian begitu menguasaimu?
Mengapa lantai kamarmu begitu dingin?
Mengapa kamu, makhluk yang hina nyatanya adalah kesayangan sang Khalik.

Kukira aku sudah hapal betul urutan ceritanya.. bahwa beberapa hari setelahnya aku akan menertawai kebodohanku, belajar membencimu kukira mudah, karna tentu ada segudang alasan yang bisa kugunakan dan bahwa aku sudah khatam.

Kita begitu sama namun juga berbeda.

Ternyata aku masih berputar-putar pada pusaran rindu yang tak bertuan. Ternyata aku hanya terus berlari menghindar, bersembunyi dari kamu, ternyata aku punya berbukit-bukit alasan untuk tidak membenci apapun darimu.

Bahwa ternyata semakin aku berpaling semakin aku menemukanmu.

Aku menemukanmu pada ruang tamu rumahku. Aku menemukanmu pada matahari yang tenggelam diantara ilalang belakang rumahku. Aku menemukanmu pada kurir yang mengantarkan paket dengan jaketnya yang lusuh. Aku menemukanmu pada gunung tak bernama yang wajahnya tertutup kabut. Aku menemukanmu pada tanjakan curam yang membakar kampas rem motorku.
Dan aku menemukanmu pada diriku.
 
Sementara tuan pujangga berkata padaku, bahwa aku seperti itu karna aku tulus.

Hah! Persetan dengan tulus.

Persetan dengan apapun itu bila nyatanya kamu masih tak bisa melihatku.
Tak melihat apa yang tuan pujangga katakan.

Hei, atau justru kau melihatnya dan memanfaatkannya untuk memberi makan egomu?

Egomu yang liar dan binal. Egomu yang tak pernah terpuaskan oleh apapun di dunia ini.
Mengapa begitu susah menghangatkan lantai kamarmu yang dingin?

Entah sampai kapan, apa kamu tidak lelah? 
Apa yang sebenarnya kamu cari?

Kuserahkan pada waktu. Meski sepertinya ia tak ada niatan untuk menjawab angan-angan bisu.
 
;