Minggu, 20 September 2020 0 komentar

Lara

Ada ribuan kata yg belum terucap
Tidak sempat mengudara...
Mataku yg lebih sering berbicara
Tapi kamu tak disini untuk menyelaminya

Sayang..
Jika bukan aku yg kau cari maka pergilah
Jika bukan aku yg kau harap maka larilah
Akan kubangun lagi dinding yg dulu kau runtuhkan
Akan ku pasang lagi sekat yg sempat engkau hilangkan

Mungkin mimpimu bukan aku
Citamu tidak diriku
Kalau aku hanya bisa menyiksamu
Biarkan kisah kita berlalu
Kamis, 17 September 2020 0 komentar

Have you ever feel like this ?

 "Have you ever wake up and feel like you are just a piece of shit ??


Well.. that's how i felt this morning, or maybe any other mornings.


Kamu bangun di pagi hari, kamu baru saja tidur tapi kamu tetap merasa lelah..

Ingin sekali rasanya kamu hanya berdiam disitu, dibalik selimut, dikamar tanpa pencahayaan, dan tidak melakukan apapun seharian.. physically & mentally..

Ya, selain tidak ingin melakukan apapun kamu juga tidak ingin memikirkan apapun..

Mungkin yang lain akan berpikir bahwa kamu hanya sedang bermalas malasan saja. But no, this is a big deal for you.

It is like a cage (?), i don't know.

Biar kukatakan ini seperti sebuah manifestasi.

Semua memori dari masa kecilmu sampai hingga saat ini yang menyisakan sebuah lubang dan itu terasa sesak. 

Seseorang berkata bahwa itu diibaratkan sebuah tangan yang akan menarik kamu jatuh ke dasar jurang, cara keluarnya adalah dengan mengingat hal hal yang membahagiakanmu, hal hal yang kamu sukai.

Tapi hari ini, sekeras apapun aku berusaha membayangkan hal yang kusukai, yang muncul hanyalah sebuah bayangan yang samar.

Kenapa seperti itu ?

Entah.

Kalau ku tahu jawabannya mungkin saat ini aku tidak berada disini.


Mungkin orang lain akan melihat bahwa kau adalah seseorang yang sempurna, bahwa seharusnya kau pandai bersyukur.

Bukannya kau tak pernah bersyukur.

Hanya saja mereka tak pernah benar benar tahu rasanya menjadi dirimu.

Rabu, 16 September 2020 0 komentar

Where's the pause button ?

Semua orang pernah merasa sedang tidak baik-baik saja, termasuk saya.. saat ini.
Perasaan itu muncul kapanpun, tak terduga, siap tak siap, dimanapun, apapun penyebabnya...

Ketika perasaan itu muncul, hal yang sangat saya inginkan mungkin bukanlah sebuah pertanyaan dari seseorang, bukan kalimat kalimat dukungan yang terkadang terasa tidak selaras dengan apa yang saya rasakan, bukan juga saran atau petuah yang saya sendiri sebenarnya sudah tahu harus apa, ya mungkin saya butuh hal hal itu, tapi yang paling saya butuhkan adalah waktu.

Iya, waktu.

Waktu untuk meraba diri sendiri.

Ingin sekali rasanya saya punya remote ajaib, yang bisa menjeda waktu sampai semua terasa baik baik saja.
Ingin sekali saya menarik diri, berhenti, beristirahat dan tidak memikirkan apapun, tidak merasa bersalah atas apapun, dan tidak peduli meskipun hanya untuk sehari saja.

Ingin saya berteriak pada seluruh dunia 
"Heyy, saya sedang tidak baik baik saja, dan saya juga tidak menginginkan ini. Ijinkan saya menghilang untuk sebentar saja. Tolong maklumi saya. Saya ingin sembuh dari perasaan ini"
Tapi dunia yang saya tinggali saat ini memiliki standar dan 'SOP'nya sendiri, saya tidak akan banyak berharap.

Ya, saat ini saya sedang tidak baik baik saja.
Dan saya tetap tidak akan peduli dan tidak ingin memikirkan apapun hari ini.
Saya hanya ingin berdua dengan kucing saya hari ini. 
Entah apa kata dunia besok, biarlah saya dicecar pertanyaaan, tapi besok, jangan sekarang. 

Sekarang saya hanya ingin jeda.
Hal mewah yang hanya bisa diberikan oleh diri sendiri.

 
Selasa, 15 September 2020 0 komentar

-DAY 1- "Describe My Personality"

 Kepribadian (personality) menurut Kartini Kartono dan Dali Gulo dalam Sjarkawim (2006) adalah sifat dan tingkah laku khas seseorang yang membedakannya dengan orang lain. Tentang bagaimana setiap manusia memiliki kepribadian yang berbeda beda menurut saya itu adalah hal yang luar biasa. Bayangkan saja, ada berapa banyak manusia di dunia ini, dan tidak ada satupun yang sifatnya sama persis. Menarik. 

Ya, menurut saya itu menarik. Mempelajari pola pikir seseorang, bagaimana cara mereka mengambil keputusan dan menyikapi masalah, apa yang membuat mereka tertawa, takut, atau sedih, seperti sedang mempelajari isi alam semesta itu sendiri, haha..

Bagaimana dengan kepribadian saya sendiri ??

Baiklah.. jika saya, orang yang seharusnya paling tahu tentang diri sendiri ini diminta mendeskripsikan kepribadiannya, maka saya akan mengatakan bahwa saya adalah orang yang pendiam dan cerewet sekaligus, pesimistis dan optimis bersamaan, seorang observer dan belakangan ini juga seorang realis.



Untuk orang yang belum terlalu dekat dengan saya selalu mengira  bahwa saya orang yang sangat pendiam, kalem, dan tidak asik. Yah itu wajar sih, karena saya cenderung membutuhkan waktu untuk dapat beradaptasi dengan seseorang. Padahal sebenernya saya tuh orang yang sangaaaat cerewet, humoris, dan spontan. 

Saya tipe orang yang tidak bisa menyembunyikan apa yang sedang saya rasakan. Jadi ketika saya tidak menyukai seseorang ya sangat sulit buat saya untuk tidak memperlihatkannya. Begitupun ketika saya menyukai seseorang, saya akan secara terang-terangan mengatakannya.


Minggu, 13 September 2020 0 komentar

Hey, I'm back!!



 Hai..

Setelah sekian lama akhirnya saya memutuskan untuk kembali lagi ke blog ini..

Mungkin kalo diibaratkan sebuah bangunan nih ya, blog ini seperti rumah kosong yg sangat berdebu dan tidak terawat.

Tapi siapa sangka bangunan berdebu ini akhirnya saya buka kembali setelah kurleb 7 tahun saya abaikan..

Ada beberapa hal yg akhirnya membuat saya memutuskan untuk mulai menulis lagi disini, selain untuk mengisi waktu luang, saya ingin skill menulis saya terasah lagi..

Yaaa mau ga mau kayak mulai dari nol lagi. Di usia saya yg sudah 25 tahun rasanya kreatifitas udah mulai menurun, apalagi kalau tidak diasah ya, bisa tumpul lama-lama nih otak. 

Beberapa hari lalu saya menemukan hal yang menarik di twitter, orang-orang melakukan "30 Days Writing Chalenge". 






Jadi selama 30 hari kita menuliskan hal-hal yang berbeda tiap harinya, seru banget kan kayaknya, bisa jadi alasan pendukung saya buat belajar nulis lagi..

Kurleb seperti itulah alasan saya membuka blog ini kembali, hehe.. semoga bs bermanfaat seenggaknya buat diri saya sendiri.. lumayan kan biar nggak stres stres amat menghadapi lika liku kehidupan haha


Wish me luck :) semoga bisa konsisten!!!

Kamis, 08 Maret 2012 1 komentar

"Let Me Tell You What Happines it is.."



Radit menyesap kembali black coffe miliknya sembari memandang heran pada gadis yang sekarang duduk manis dihadapannya dengan tatapan yang sama herannya dengan dirinya. Tak menyangka akan bertemu dengannya di café seperti ini. Vionina, atau yang biasa disapa Nina, adalah rival sekaligus musuh bebuyutannya di masa SMA. Mereka sering bertengkar hanya karena masalah sepele, bersikutan di kantin sekolah misalnya. Dia satu-satunya makhluk di atas bumi yang paling Radit benci-dulu. Dulu sekali, masa-masa labil itu. Radit jadi malu sendiri mengingatnya sekarang.

"Kau banyak berubah," sebentuk senyum muncul di wajah manisnya saat memperhatikan Radit dari kaki hingga kepala.

“kau juga…  hm,  apa sampai sekarang kau tetap bersikukuh  menjadi atlet tennis, nona manja ?”

“cih, jangan memanggilku seperti itu lagi ! aku sudah 24 tahun ! tentu saja aku adalah seorang atlet tennis nasional sekarang ! apa kau tidak pernah membaca koran olahraga? Kau ini kampungan sekali. Sudah puluhan medali kuraih dan harusnya akhir bulan depan aku menguti turnamen asia…” 
Nina berusaha menjawab dengan bersemangat namun entah mengapa suaranya terdengar melemah di akhir kalimat. Manik mata foxy-nya menyiratkan setitik lara.

“eh, seharusnya? Kenapa pakai kata seharusnya? Kalau ikut ya ikut saja. Plin plan sekali !” Radit mengalihkan wajahnya setelah membalas ucapan Nina dengan sengit tanpa memperhatikan perubahan ekspresi wajah gadis manis didepannya.

"sudahlah lupakan ! Jadi, apa yang kau lakukan sekarang?" Tanya Nina kemudian.

"Aku bekerja, berkutat dengan saham perusahaan selama hampir dua tahun. Dan selama itu pula aku tidak pernah mengambil cuti" Radit menjawab dengan ekspresi datarnya.

"Sesuatu pasti mengubahmu.."  kata Nina perlahan.
 Matanya menatap pada cincin yang bersarang manis di jemari Radit,
 "atau seseorang…" lanjut Nina.

 Radit yang memperhatikan itu segera memasukkan tangan ke saku mantelnya. Ia menunduk. Ekspresinya berubah sedih.

“Maaf, aku harus segera pulang. Pekerjaanku menumpuk di rumah…”
"Maaf kalau aku-"
"Tidak perlu," Radit memotong ucapan Nina.

Radit  berjalan tergesa-gesa meninggalkan Nina yang mematung kebingungan tanpa sempat mengatakan apapun.

 "Senang bertemu denganmu kembali, Raditya…" bisiknya pelan yang tak mungkin terdengar oleh Radit.






Radit mendesah jengah saat ada yang menekan bel rumahnya secara brutal. Malas sekali rasanya membukakan pintu untuk orang yang berani mengganggu ketenangannya di hari  minggu ini. Rasa penasarannya terjawab saat ia dengan gontai membukakan pintu rumahnya. Sosok gadis dengan senyum innocent berdiri di depan pintu rumahnya, ya, gadis yang sama saat di cafĂ© kemarin.

“k kau? Darimana kau tau alamat rumahku?”

“haiii~ sebenarnya kemarin aku mengikutimu secara diam diam. Yaaah meskipun aku sempat kehilangan jejakmu, tapi untung saja ibu-ibu yang tinggal disebelah rumahmu itu memberi petunjuk padaku”  cengiran polos terlukis di wajah imutnya.

Sedangkan radit hanya diam dengan tatapan yang seolah berkata ‘dasar-bodoh-mengganggu-saja’

“b boleh aku masuk?”
 Radit pun menggeser badannya, memberi ruang agar ‘mantan rivalnya’ itu bisa masuk.

"Jadi, apa yang kau punya disini, hm?" Tanya Nina. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan di rumah Radit.

 Rumah Radit bersih. Bersih dalam artian tidak ada benda-benda berharga atau barang ‘basa basi’ yang menghiasi rumahnya. 'Tidak ada yang menarik', simpul Nina sadis di dalam hati.

"Well… Berjuta-juta kesenangan, seperti yang kau lihat," sahut Radit sarkastik. Ia melirik tumpukan map di atas meja yang belum ia selesaikan.

“kau mau minum apa? “
“terserah, apa saja yang kau punya”
“ah aku hanya punya air putih” ucapan Radit barusan sontak membuat Nina ber ’gubrak’ ria.  Ditatapnya pemuda jangkung itu denga pandangan ‘sweatdrop’  - -“  

‘kalau Cuma punya air putih kenapa pake acara tawar tawar segala tadi’ rutuknya dalam hati.

Sepeninggal Radit ke dapur, ia mengitari sudut rumah Radit sembari memikirkan apa yang tetangga Radit katakan kemarin. Wanita paruh baya tetangga Radit itu mengatakan bahwa sudah beberapa tahun terakhir pemuda itu mengalami depresi akibat ditinggal oleh kekasihnya. Nina tidak   dapat menduga siapa kekasih radit yang dimaksud, karena semasa SMA dulu Radit memang terkenal playboy. Namun siapapun itu, yang jelas Radit pasti sangat mencintainya, sehingga luka karena ditinggal kekasihnya itu pasti sangatlah pedih.

Tak sengaja Nina menemukan sebuah foto yang dibingkai oleh pigura yang kacanya sedikit retak. Dibantingkah? Ia tak tahu. Yang jelas dalam foto itu terlihat Radit bersama seorang gadis yang dirangkulnya. ‘cantik…’ gumam Nina.

“apa yang kau lakukan ? jangan sentuh apapun !!” suara bass Radit mampu membuat Nina terlonjak.
“eh, ma maaf..” mereka berjalan kikuk kearah sofa dan duduk berhadapan.
“sebenarnya apa yang kau inginkan, hm?” saat ini mood Radit telah hancur sempurna. Terlihat dari nada bicaranya.

“kau benar benar depresi ya?” sungguh gadis yang berani.
“aku tahu ini terlambat.. tapi.. aku turut berduka cita” Nina menatap Radit dengan 
sungguh-sungguh. 
Sedetik kemudian Radit tau apa maksud dan kemana arah pembicaraan Nina. Ia hanya bisa menundukkan wajahnya. Selalu saja begini, selalu sakit saat ada yang menyinggung masalah Cindy, kekasihnya yang telah pergi  5 tahun lalu.

“maaf jika aku lancang. Tapi kau tidak boleh terus seperti ini. Ini demi kebaikanmu juga kebaikannya..”  Nina menggigit bibir bawahnya 

“kau tahu, dia tak akan suka melihatmu begini —“

“kau tak tau apa-apa tentangnya !” sahut Radit dingin. 
Ia berdiri. Kemarahan yang ditimbulkan karena ketidakberdayaannya timbul ke permukaan. Nina hanya orang lain… Ia tidak tahu apa-apa…

 Ia tidak tahu apa-apa tentang Cindy, bagaimana ia pergi, bagaimana Radit menjalani hidup selama ini. Hati Radit sakit mengingatnya.

"KAU SAMA SEKALI TIDAK MENGENALNYA!"

“pulanglah… lebih baik kau pulang” suara Radit melunak. Namun ekspresi  murka masih tersirat di wajah tampannya.

Nina yang awalnya hanya mendelik terkejut kearah Radit ikut bangkit. Ia menatap tajam pada pria dihadapannya, perasaan tidak terima berkecamuk dihatinya. Tidak terima? Ya, tentu saja.
“sebelum aku pergi, kau harus tau suatu hal” Nina menghela napas berat sebelum memulai ceritanya.

“apa kau masih ingat semua ejekan, hinaan, dan cacian yang pernah kau tujukan padaku dulu? Biar kuberi tau padamu tuan Raditya. Asal kau tahu, kau telah menjadi motivatorku sejak dulu! Konyol bukan? Tapi itulah kenyataanya. aku telah bekerja keras untuk meraih impianku menjadi atlet tennis. Aku tak mau kalah darimu. Aku tak mau sedikit pun menunjukkan bahwa diriku adalah gadis manja seperti apa yang kau katakan. Aku tak mau menjadi gadis lemah !! dan secara tidak langsung kau telah menjadi motivatorku, membuatku tidak pernah putus asa untuk meraih mimpiku !!” Nina yeng sedikit terengah-engah mencoba kembali mengambil napas panjang untuk meneruskan perkataannya.

“dan coba lihat dirimu sekarang. Orang yang selama ini kujadikan motivator, orang yang caciannya slalu kuingat saat aku terpuruk agar aku bangkit lagi, justru terlihat sangat lemah saat ini. Aku tak akan membiarkanmu terus larut dalam duka seperti ini. Kau harus bangkit !! sadar radit.. kumohon sadarlah…” Nina mengguncang pundak Radit keras. Isakan mulai terdengar darinya.

“hentikaaan !! kau bahkan tidak mengerti apa yang aku rasakan “ Radit menepis tangan Nina di pundaknya. 

“tidak mengerti katamu? Baik…. Akan kutunjukkan..” Nina menyingkkap lengan bajunya. Entah disengaja atau tidak, hari ini ia memang menggunakan baju  lengan panjang.

“kau lihat ini .. kau lihat luka bakar ini? Menjijikkan bukan? Ini belum seberapa dari yang ada di punggungku  Radit .. luka ini hampir memenuhi seluruh tubuhku..” bukan hanya isakan kini gadis itu benar benar menangis… dengan pilu..

“k k kau? Apa yang telah terjadi?”  Radit menatap ngeri pada luka bakar di tangan Nina. Meskipun tidak memenuhi seluruh bagian tangannya tapi luka itu terlihat sangat parah.

“luka ini….. kebakaran hebat terjadi dirumahku setahun yang lalu. Tidak hanya harta, bahkan seluruh keluargaku lenyap.. nyawaku juga hampir lenyap saat itu. Tapi ternyata akulah satu satunya orang yang berhasil selamat dari kebakaran itu meski dengan resiko cacat seumur hidup. Aku berbohong padamu kemarin, aku bukan seorang atlet tennis lagi semenjak peristiwa itu. Bahkan seluruh medali yang pernah kuraih ikut hangus terbakar dalam kebakaran itu…” Nina menunduk, tatapan matanya kosong, dan hatinya sangat ngilu mengingat kejadian naas setahun lalu.

Radit terpaku. Seolah tidak percaya dengan apa yang telah terjadi, dan perlahan ia pun tersadar. Ia sungguh merasa sebagai seonggok sampah yang tak berguna.

 Nina, yang hanya seorang gadis dapat dengan tegar menerima kenyataan yang terjadi. Kejadian yang dialami Nina baru lewat setahun, sedangkan ia sudah 5 tahun, sudah sangat lama. Kejadian yang menimpa Nina merenggut seluruh anggota keluarganya, semua medalinya, bahkan impiannya yang telah lama ia kejar dengan susah payah. Sedangkan Radit? Ia memang kehilangan kekasih tersayangnya, namun ia masih beruntung karena keluarganya masih lengkap dan siap mendukungnya kapanpun, masa depannya masih cerah, dan dia juga samasekali tidak mengalami cacat. Jadi intinya Radit merasa malu dan bersalah. Nina saja bisa setegar itu, lalu kenapa ia harus berlarut larut dalam kesedihan? ’ Such a fool guy!’ batinnya.

Radit yang tersadar akan kebodohannya selama ini. Ia berusaha menyangga tubuh Nina yang entah sejak kapan sudah menangis dalam duduknya, mencoba merengkuh gadis itu dan berbagi, berharap rengkuhannya bisa membuatnya berhenti menangis.

“aku lemah ya? Aku bodoh..” ucap Radit sembari mengusap rambut Nina.
“berjanjilah…”
“untuk?”
“berjanjilah untuk tidak mengulangi kebodohanmu, tuan keras kepala..”
“haha.. aku berjanji asal kau juga berjanji untuk selalu semangat dan tersenyum, nona jelek..”
“eh? Apa katamu? Ukh.. awas kau..”
-FIN-


Sabtu, 26 November 2011 0 komentar

Metode pengembangan paragraf


  1. Metode perbandingan
Yaitu membandingkan antara dua hal atau lebih yang kelasnya sama. Contoh ; membandingkan mantan presiden soeharto dengan presiden SBY


  1. Metode analogi
Yaitu membandingkan antara dua hal atau lebih yang kelasnya berbeda. Contoh : nasib manusia seperti roda yang berputar.







  1. Metode contoh
Yaitu mengembangkan paragraph menggunakan contoh sebuah kejadian

  1. Metode definisi luas
Artinya memberikan pengertian sebuah kata atau konsep dalam sebuah paragraph. Contoh : gitar adalah sebuah alat music yang dimainkan dengan cara dipetik. Terdapat 6 buah senar yang masing-masing mempunyai melodi berbeda.

  1. Paragraph klasifikasi
Artinya paragraph yang didalamnya terdapat mengelompokkan atau menggolongkan sesuatu.

  1. Metode analisis
Artinya menguraikan macam-macam analisis


 
;