Sabtu, 20 Maret 2021 0 komentar

Si kunang-kunang

 Tak akan kau temukan aku pada siapapun
Tidak pada rambut panjangnya
Tidak pada tubuh ramping semampai
Tidak pada senyum manis bergingsul
Dan tidak pada para gadis di lusinan ruangmu, tidak.

Aku sudah mati, bila kau rasa begitu.
Aku padam dan hilang cahayanya seperti kunang-kunang diantara lampu taman.
Aku kalah terang.
Terabaikan, dan pulang.

Tak mengapa, aku tak resah.
Kuletakkan cahayaku diujung langit yg akan menjelma menjadi selimutmu ketika gundah.
Akulah si kunang-kunang.
Teman tidurmu sampai kau kuat menyambut fajar.
Beribu pelarian tak pernah kau temukan.





                             Cr : pinterest

Rabu, 17 Maret 2021 0 komentar

Degup ketiga

 Tiada yang benar-benar sampai pada degup ke tiga
Segala yang kuragukan telah kupintakan pada-Nya
Mungkin belum, masa masih enggan bersuara
Sampai ia tiba aku akan terus berkelana.

Kuberi tahu kau suatu hal,
Degup pertama mungkin pertanda, 
Bahwa ada suatu garis yang saling terikat.
Banyak yang tersesat pada degup kedua,
Lingkaran setan, kita terjebak didalamnya.
Maka bangunlah.. saat ayah ibumu terlelap
Dan bulan masih setia pada peraduannya.
Degup ketiga hanya disimpan oleh-Nya
Sang Pecinta sesungguhnya.
Kembalillah ke pelukanNya, kau akan selalu aman bersamaNya.









Kamis, 11 Februari 2021 0 komentar

Hai, selamat datang di rumah!

 Ku kira kamu rumah

Ternyata bukan..

Ternyata kamu jalan pulang

Ya jalan pulang menuju rumah

Yang tak lain adalah diriku sendiri.


Tentu saja jalannya tak selalu mulus

Ada jalanan lurus yang panjang, bebatuan tajam dan lubang, menanjak juga berkelok.

Aku selalu suka berada di perjalanan

Melebihi suka ku sampai di tujuan, kadang

Tapi perjalanan selalu memiliki usai.


Dalam perjalanan itu aku pernah melihat kebun bunga di sebelah kanannya, bunga matahari katamu, menurutku bukan, itu bunga liar, tapi sama indahnya, yang penting kau suka kan..

Dalam perjalanan kakiku pernah kepayahan karna kerikil tajam, menusuk dan membekas, tapi aku masih kuat untuk meneruskan..

Dalam perjalanan aku pernah diterjang badai, petir menyambar-nyambar, menumbangkan  pohon pinus yang akhirnya menutupi jalan.. tapi aku terus berjalan sambil terus menggumam "jikalau aku harus mati dalam perjalanan ini, aku tidak mau mati sebagai pengecut". 

Satu hal yang kusuka dari badai adalah ia menyapu bersih langit dari polusi ibukota, menampilkan tanah impianku yang anggun jauh disana dengan hamparan perbukitannya, aku berterima kasih pada badai setelahnya.

Aku juga berterima kasih pada kau, jalan.

Juga pada angin yang setia menuntunku hingga akhirnya menemukan aku, rumahku.

Seberapapun menyakitkannya perjalanan ini, aku tetap menyukainya lebih dari apapun siapapun di dunia ini yang tau.

Terimakasih untuk semuanya, aku telah pulang ke rumah.





                  


Kamis, 21 Januari 2021 0 komentar

Berhenti bertanya, sudah malam!

Banyak hal yang tak kumengerti di dunia ini.
Mengapa rindu tak pulang pada pemiliknya?
Mengapa kesepian begitu menguasaimu?
Mengapa lantai kamarmu begitu dingin?
Mengapa kamu, makhluk yang hina nyatanya adalah kesayangan sang Khalik.

Kukira aku sudah hapal betul urutan ceritanya.. bahwa beberapa hari setelahnya aku akan menertawai kebodohanku, belajar membencimu kukira mudah, karna tentu ada segudang alasan yang bisa kugunakan dan bahwa aku sudah khatam.

Kita begitu sama namun juga berbeda.

Ternyata aku masih berputar-putar pada pusaran rindu yang tak bertuan. Ternyata aku hanya terus berlari menghindar, bersembunyi dari kamu, ternyata aku punya berbukit-bukit alasan untuk tidak membenci apapun darimu.

Bahwa ternyata semakin aku berpaling semakin aku menemukanmu.

Aku menemukanmu pada ruang tamu rumahku. Aku menemukanmu pada matahari yang tenggelam diantara ilalang belakang rumahku. Aku menemukanmu pada kurir yang mengantarkan paket dengan jaketnya yang lusuh. Aku menemukanmu pada gunung tak bernama yang wajahnya tertutup kabut. Aku menemukanmu pada tanjakan curam yang membakar kampas rem motorku.
Dan aku menemukanmu pada diriku.
 
Sementara tuan pujangga berkata padaku, bahwa aku seperti itu karna aku tulus.

Hah! Persetan dengan tulus.

Persetan dengan apapun itu bila nyatanya kamu masih tak bisa melihatku.
Tak melihat apa yang tuan pujangga katakan.

Hei, atau justru kau melihatnya dan memanfaatkannya untuk memberi makan egomu?

Egomu yang liar dan binal. Egomu yang tak pernah terpuaskan oleh apapun di dunia ini.
Mengapa begitu susah menghangatkan lantai kamarmu yang dingin?

Entah sampai kapan, apa kamu tidak lelah? 
Apa yang sebenarnya kamu cari?

Kuserahkan pada waktu. Meski sepertinya ia tak ada niatan untuk menjawab angan-angan bisu.
Selasa, 29 Desember 2020 0 komentar

Sampai nanti..

Suatu hari nanti
Bila takdir memberi izin
Kita akan bertemu lagi
Maka jangan katakan apa apa tentang kemarin
Kau tau, aku tak peduli

Mataku laksana cermin
Bening air teduhnya hati
Maka rindulah yang akan kau jumpai
Dahaga dan kegilaanku akan dirimu yang kau dapati

Akulah samudra
Aku jatuh bersama hujan
Aku angin yang membelai pipimu mesra
Aku juga api yang membakar singgasana

Kelak akan ada perjumpaan
Keringnya padang ini meminta hujan
Kau adalah korban dari kefanaan
Padaku nada-nada itu menjadi alunan


                     

Selasa, 08 Desember 2020 0 komentar

Sebenarnya..

 It's been a long time since we talked

It's been a long time since I heard your voice

Rasanya baru kemarin kita menyusuri kota berdua, menebak nebak kemana angin akan membawa kita..


Rasaku masih sama. Tidak berkurang sama sekali. 

Hanya saja kini aku berhenti untuk memberitahukannya kepadamu.

Iya, aku harus berhenti, agar aku tdk terlihat mudah dihadapanmu. Agar kamu tidak terus menerus memperlakukanku seenaknya.


Hey, aku tidak bilang bahwa perbuatanmu itu benar. Apa yang kamu lakukan sangat tidak dewasa dan menyakitiku. 

Aku tidak tahu apa alasanmu berbuat seperti itu, apa salahku padamu, dan mengapa kau tidak meminta maaf kepadaku.

Ada banyaaaak sekali hal yg ingin kuceritakan padamu, pun banyak juga yg ingin kutanyakan tentangmu saat ini.

Jam berapa kamu pulang, apakah kamu sehat, bagaimana tempat kerjamu, berapa banyak puntung rokok yg kau habiskan dalam sehari sekarang ?

Andai kamu tahu.


Tidak tidak.. aku berhenti bicara bukan karena membencimu. Karna sejujurnya aku tak pernah bisa benci padamu.

Aku berhenti bicara karna aku berusaha mencintai diriku. Melindungi perasaanku dan perasaanmu dari keegoisan, amarah, dan prasangka.


Aku tak tahu apa yg sedang kamu lakukan sekarang, aku hanya bisa berdoa dan terus berdoa untuk kebaikanmu. Aku cuma bisa bercerita disini. Semoga Tuhan berbaik hati menitipkan rinduku pada angin yang menerpa halus pipimu.





Kamis, 03 Desember 2020 0 komentar

Roller coaster

 Aku adalah taman bermain di tengah kota.

Ada rumah hantu, sepeda air, aku punya carrousel, dan kincir angin juga ada.


Kamu datang membawa roller coaster.

Awalnya aku tidak suka.

Tapi kamu terus memegangi tanganku, dan kita berteriak bersama.

Wahana itu baru dan menakutkan bagiku.

Aku tertawa ketika diatas, lalu kau bawa terjun dari langit. Aku kesal, dan aku menangis. Tapi kamu tetap setia memegangi tanganku. 

Kini sudah sekian putaran, kita lalui. 

Aku masih tetap takut, tapi aku tau kamu akan terus memegang tanganku.

Meski bukan favoritku, aku akan tetap menaikinya, asal itu bersamamu.



              

  
Cr: pinterest

 
;